Di Bawah Pengawasan Siluet Hitam
Cerita itu terdengar seperti dongeng kampus biasa pada mulanya, kisah usang tentang sebuah kamar kos di ujung lorong yang menyimpan sisa-sisa energi masa lalu. Namun, saat aku mendengarkannya dengan seksama, menyerap setiap jeda dan setiap kata yang ditahan, ada sesuatu yang menjalar di bawah kulitku. Itu bukan rasa takut yang normal.
Tiba-tiba, tubuhku terasa panas, bukan demam, melainkan seperti api yang menyala di tulang sumsumku. Rasanya seperti ada yang berusaha menguasai diriku, sebuah perebutan kendali biologis yang sulit kuungkapkan—seperti susunan urat saraf otonomku diambil alih. Panas itu memuncak, dan aku merasa hampir kehilangan kendali atas respons fisiknya, seolah ada kekuatan lain yang mendorong diriku ke batas teror, berusaha mendekatiku dengan paksa. Aku terperangkap dalam wadah diriku sendiri, berjuang melawan penyerahan diri yang tak disengaja.
Malamnya, setelah seharian penuh memaksakan diri belajar, aku jatuh ke kasur dalam kelelahan yang ekstrem. Aku tertidur dengan cepat. Namun, tidur tidak membawa damai.
Mimpi yang datang malam itu adalah manifestasi visual dari teror yang baru saja merasuk. Aku berada di koridor tak berujung, dikejar oleh sosok yang sangat tinggi dan gelap. Tingginya menjulang, siluet hitam itu bergerak sekelebat, mendekat dengan kecepatan yang menakutkan. Aku berlari sekuat tenaga, tetapi sosok itu seolah-olah semakin memendekkan jarak, membuatku merasa benar-benar terjepit dan tak bisa lari lagi. Itu adalah kengerian yang membuat individu kehilangan kendali atas dirinya, teror yang menuntut penyerahan diri total. Rasanya begitu nyata dan mencekam.
Aku terbangun dengan napas yang tersengal-sengal, tubuhku gemetar ketakutan. Keringat dingin membasahi punggungku, dan kebingungan menjebakku di antara mimpi dan kenyataan. Aku beranjak dari tempat tidur, pikiran satu-satunya adalah menenangkan sistem sarafku yang terguncang. Aku menuju ke dapur untuk mengambil segelas air. Pencahayaan di lorong apartemen redup, hanya menyisakan bias biru gelap dan kekuningan dari lampu malam yang berkedip samar, menciptakan nuansa realisme horor sinematik yang tanpa sadar mencekikku.
Saat aku hendak meraih gelas1 di rak, semuanya berhenti. Aku terkejut luar biasa, bukan karena suara atau bayangan, tetapi karena sensasi fisik yang mustahil. Aku merasa seperti tubuhku melayang, terangkat, berada di atas kasur. Aku tidak sedang di kasur. Aku berada di atas permukaan, jauh dari tempat tidur yang seharusnya aman. Rasanya seperti sedang terbang, namun aku tidak bisa mengendalikan arah atau momentumku. Jantungku berdegup kencang, memukuli tulang rusukku seperti genderang yang panik. Ini adalah puncak teror, klimaks di mana otonomi fisik telah dicuri.
Tanpa sadar, aku merapal berbagai doa, mencari perlindungan terakhir saat semua logika meninggalkanku. Aku memohon agar segala ketakutanku segera berakhir. Doa-doa itu tidak menghentikan fenomena, tetapi mungkin memperlambatnya. Perlahan-lahan, aku merasakan tubuhku mulai turun. Rasanya sangat lambat, penarikan ke bawah itu berlangsung dengan durasi yang tak tertahankan, seolah aku sedang ditarik oleh kekuatan tak tampak—sebuah perpanjangan teror yang disengaja.
Akhirnya, aku jatuh terduduk di atas kasur dengan napas yang masih terengah-engah, kembali ke realitas yang terasa asing. Aku basah oleh keringat, perasaan takut dan kebingungan bercampur aduk dalam keheningan malam yang sunyi.
Sejak malam itu, ada sesuatu yang berbeda dalam diriku. Peristiwa levitasi adalah titik balik yang definitif. Tubuhku seakan menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang tak bisa dilihat oleh mata. Aku merasa seperti ada yang mengawasi, sesuatu yang tak tampak namun selalu ada di sekitarku, di tepi penglihatan, di balik jendela. Perasaan ini datang dan pergi, kadang mengganggu fokus kerjaku, kadang membuatku merasa terjaga bahkan saat aku sedang tidur.
Kejadian aneh itu terus berlanjut, dan aku merasa seolah ada yang menyertai, mengintai, menunggu kesempatan untuk mendekat lebih jauh. Itulah awal mula perubahan dalam hidupku, saat aku menyadari bahwa aku tidak lagi hanya tinggal di duniaku sendiri. Aku telah terhubung secara permanen dengan dunia yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Dan entitas yang tinggi dan gelap itu kini tahu persis di mana harus menemukanku.