P o n d o k   P e s a n t r e n

A L - I H S A N

Beringan Dempo Timur Pasean Pamekasan

Neurosexism

—Kecendrungan untuk mencari dan melebih-lebihkan perbedaan otak antar jenis kelamin, lalu menyimpulkan bahwa perbedaan bersifat alamiah dan tetap.

Pola pikir ini dibentuk oleh justifikasi politik di setiap peradaban. Aristoteles menyatakan bahwa perempuan adalah ``laki-laki yang tidak sempurna`` hingga pernyataan bahwa jiwa perempuan ``tidak punya otoritas``. 

Melompat ke abad pencerahan para pemikir seperti Rousseau menulis bahwa perempuan ``dirancang oleh alam untuk urusan domestik dan emosi``. Kemudian kant –Observation on the Feeling of the Beautifull and Sublime (1764)– menulis ``Perempuan yang mempelajari ilmu berat sama saja menempelkan janggut palsu``. Inilah fondasi deskriminasi berbasis kodrat dimulai.

Kate Manne, –Down Girl: The Logic of Misogyny -2018- – menunjukan misogini yang tidak sederhana (membenci terhadap individu), lebih dari itu adalah pembentukan sistem penegakan yang menghukum perempuan ketika mereka keluar dari peran yang ditetapkan terhadap mereka.

Mitos yang selama ini dianut bahwa ``Perempuan pakai perasaan, laki-laki pakai logika`` adalah bentuk misogini akut yang perlu diluruskan. 

Tidak ada otak yang sepenuhnya maskulin dan sepenuhnya feminim. Studi Nicole Else-Quest -2012-, menemukan bahwa perbedaan ekspresi emosi antar gender sangat kecil, sangat kontekstual, dan sangat dipengaruhi oleh norma budaya.

Artinya, kalau perempuan dianggap ``lebih emosional``, itu karena mereka lebih banyak disosialisasikan untuk mengekspresikan emosi, sementara laki-laki disosialisasikan menyembunyikannya. Bukan karena perbedaan otak.

Pada budaya jawa perempuan seringkali direndahkan dalam status. Hal ini termaktub pada banyak istilah yang menjadi doktrin turun temurun, sehingga diterima dan dimaklumi hingga hari ini. Seperti contoh dalam istilah budaya jawa ada yang menyebut perempuan sebagai ``Kanca Wingking`` yang berarti teman dalam mengurus rumah tangga, khususnya urusan anak, memasak, menyuci dan lain-lain.

Berbagai budaya lintas abad, perempuan tidak benar-benar bebas, mereka tidak terlepas dari misoginisme secara langsung atau tidak. Hal semacam ini menimbulkan keyakinan bahwa perempuan tidak bisa menghadapi masalah dengan logika. 

Dari peradaban yunani kuno hingga peradaban modern Stereotipe tak mendasar terhadap status dan peran perempuan didukung oleh budaya, politik dan sosial. Kemunculan istilah modern yang sering didengar ``perempuan cenderung lebih mengedepankan emosi dan perasaan, laki-laki cenderung mengedepankan logika``, istilah ini mejadi kebiasaan dan diyakini di tengah masyarakat. Dalam istilah psikologi dikenal dengan ``self-fulfilling prophecy`` yakni ketika seseorang meyakini sesuatu secara kuat dan akhirnya mengalami kenyataan yang sesuai dengan keyakinan tersebut. 

—Laki-laki tidak lebih baik dalam berlogika dari pada perempuan.

—Perempuan adalah ibu peradaban yang secara harfiah melahirkan generasi tangguh.

Penulis : anisul imamah, M.Pd,

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca