Setiap orang ingin menjadi pusat dari sekelilingnya. Sehari-hari kita berkutat pada keinginan untuk mendapat perhatian orang, apakah itu di real life atau medsos. Seakan kita perlu diperhatikan baik tingkah kecil maupun besar.
Kita takut menghadapi hari esok karena kesalahan kita hari ini. Kita takut melakukan lagi pada sesuatu yang tidak dianggap lumrah. Ketakutan itu yang membentuk perasaan bahwa kita selalu diperhatikan orang-orang. Akan mudah untuk dipahami secara luas dan mendalam pada pembicaraan tersebut, jika kita dapat memetakan antara keinginan dan ketidakinginan. Ada dua "perhatian" yang mestinya kita olah dari perasaan seperti ini. Takut akan perhatian orang dan takut akan tidak diperhatikan oleh orang.
Gagasan paradoks antara keinginan dan ketidakinginan (tentu dalam kontek ingin diperhatikan atau tidak) perlu dikotomi lebih lenjut. Hal ini berakar dari bias kognitif pikiran kita, dalam psikologi dikenal dengan Spotlight Effect (Efek Sorotan) (Gilovich, T. 2000). Ketika kita melakukan kesalahan atau bertingkah di luar norma, ego kita membesar sedemikian rupa hingga menciptakan ilusi bahwa semua mata sedang tertuju pada kita. Kita merasa seolah-olah seluruh dunia bertindak sebagai juri atas kecanggungan kita hari ini. Padahal, kenyataannya setiap orang terlalu sibuk menjadi "pusat" dari semestanya sendiri sehingga mereka sangat jarang memperhatikan kekurangan kita secara mendetail. Ketakutan akan "diperhatikan" karena sebuah kesalahan ini pada akhirnya hanyalah proyeksi dari rasa tidak aman (insecurity) yang memenjarakan kebebasan kita untuk melangkah lebih jauh.
Mengolah emosi yang pertama perlu menyadari bahwa setiap orang punya potensi untuk melupakan sesuatu yang sudah terjadi. Seorang pelayan yang salah mengantarkan menu hari ini, besok atau lusa kesalahan sudah tidak diingat lagi. Kesalahan kecil yang terlanjur dilakukan akan cepat dilupakan oleh rang lain. Kesalahan besar menyangkut kerugian sosial, agama, dan hal-hal yang berdampak di masa depan.
Di kutub yang berlawanan, ketakutan akan "tidak diperhatikan" menghantui kita dengan ancaman keterasingan yang jauh lebih senyap. Dalam pandangan psikologi sosial, dorongan untuk terus menggapai perhatian ini bukanlah sekadar keangkuhan dangkal, melainkan manifestasi dari kebutuhan mendasar manusia untuk diakui keberadaannya (the need to belong) (Baumeister, R. F.). Ketika kita merasa tidak terlihat, baik saat eksistensi kita di media sosial tidak divalidasi maupun kehadiran kita di dunia nyata diabaikan, kita merasa terputus dari ikatan komunal yang seolah menghapus makna eksistensi kita. Pada titik inilah kita menyadari bahwa mengolah kedua emosi ini berarti belajar menoleransi ketidaksempurnaan diri saat kita sedang "tersorot", sekaligus mampu menemukan kedamaian batin saat panggung kita sedang kosong tanpa penonton.
Mengolah emosi yang kedua menyangkut kesadaran individu akan esensi diri di tengah masyarakat. Apakah kita benar bernilai terhadap orang lain? Apakah kita berdampak terhadap lingkungan sekitar? Akankah kematian kita dapat merugikan orang lain? Pertanyaan serupa lebih lanjut dan akan berkembang beriringan dengan adaptasi otak manusia.
Kesadaran penuh perlu untuk mengontrol setiap tindakan dan emosi/perasaan sehari-hari. Kita tidak istimewa, dunia tidak akan berhenti ketika kita merasa senang. Bahkan terasa acuh tak acuh atas kesedihan yang kita alami. Orang di sekitar kita tidak peduli apakah kita baik-baik saja atau kita memang sedang sakit. Orang-orang sibuk atas pekerjaan dan perasaan masing-masing, tidak ada waktu memikirkan situasi dan kondisi kita.
Untuk ketidakmampuan diri atas tuntutan tradisi dan budaya yang lumrah di masyarakat. Melalui Buku The Stranger (1942), Albert Camus menelanjangi tuntutan itu dengan menghadirkan tokoh Meursault. Ketika ibu Meursault meninggal, masyarakat mengharapkan ia menangis histeris untuk menunjukkan kesedihan yang dramatis agar dilihat oleh banyak orang. Namun, Meursault tidak menangis, karena memang dia tidak mau menangis. Ia menolak memalsukan perasaannya demi muaskan mata dan iba masyarakat. Melalui hal ini, Camus menunjukkan bahwa banyak orang bertindak hanya untuk dinilai "baik" atau "normal" oleh masyarakat, yang pada akhirnya hanya mematikan keaslian diri kita sendiri.
Pada buku yang sama di akhir cerita, menjelang hukuman matinya, Meursault membuka dirinya pada ketidakpedulian dunia yang lembut. Ia menyadari bahwa alam semesta ini netral dan tidak peduli padanya, dan bahwa hujatan, sorakan, kebahagiaan, kesedihan dan kejumudan hidup dirinya dan orang lain tidak mempunyai makna inheren apapun baik sebelum mati atau setelah kematiannya.